Focus Group Discussion (FGD) BRIN Bahas Toponimi sebagai Jembatan Komunikasi Pemerintah dan Orang Rimba

Focus Group Discussion (FGD) BRIN Bahas Toponimi sebagai Jembatan Komunikasi Pemerintah dan Orang Rimba

Berita, Berita Lembaga 2 menit baca 19 kali dilihat

Jambi, 23 September 2026. Kajian toponimi dinilai memiliki peran penting dalam membangun komunikasi lintas budaya antara masyarakat Orang Rimba dan pemerintah. Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bertema “Pengembangan Model Komunikasi Lintas Budaya melalui Tipologi Toponimi pada Ruang Hidup Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi: Kajian Antropolinguistik”, Rabu (23/9/2026).

FGD yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting tersebut berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.10 WIB. Wakil Dekan I Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Dr. Diana Rozelin, M.Hum., hadir sebagai narasumber dalam kegiatan yang membahas keterkaitan bahasa, budaya, dan ruang hidup masyarakat Orang Rimba.

Dalam kajian antropolinguistik, toponimi tidak hanya dipandang sebagai nama suatu tempat, tetapi juga dapat menjadi bagian dari informasi mengenai sejarah, budaya, lingkungan, dan kehidupan masyarakat yang menempati ruang tersebut. Karena itu, pemahaman terhadap toponimi di ruang hidup Orang Rimba menjadi salah satu aspek yang dapat mendukung pemahaman lintas budaya.

“Toponimi dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami hubungan antara bahasa, budaya, dan ruang hidup masyarakat Orang Rimba. Pemahaman tersebut penting dalam membangun komunikasi yang lebih kontekstual antara masyarakat dan pemerintah,” demikian substansi yang disampaikan dalam pembahasan FGD.

Melalui kegiatan tersebut, penelitian diharapkan dapat menghasilkan model komunikasi lintas budaya yang dapat menjembatani komunikasi antara masyarakat Orang Rimba dan pemerintah. Model komunikasi yang dikembangkan melalui kajian toponimi diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi terciptanya komunikasi yang lebih efektif dengan mempertimbangkan aspek bahasa, budaya, dan karakteristik ruang hidup masyarakat Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi.

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 Fakultas Adab & Humaniora. All Rights Reserved.